Wednesday, October 13, 2010

Kekufuran Sosial

"Kefakiran dapat berpotensi pada kekufuran." Demikian di antara pesan moral yang sering kita dengar atau bahkan kita ucapkan. meskipun diyakini para ahli hadis bahwa kalimat itu tidak termasuk qoul Nabi SAW, ia memiliki substansi pesan yang baik, paling tidak untuk direnungkan
Kekufuran kini talah mengambil tempat yang semakin membahayakan. ia merupakan satu dari sekian banyak penyakit sosial yang sering menggangu kehidupan, merusak kebersamaan, dan bahkan tidak jarang muncul dalam wujud tindak kekerasan. Kekerasan pun pecah di banyak tempat. Secara sosial maupun material, kekerasan kini telah melewati batas toleransi. Padahal jika ditelusuri, sumber sumber penyebabnya sangat sederhana.
Potret kesederhanaan yang menjadi sumber kekerasan itu dapat kita lihat dalam sejumlah tragedi sosial, sepeti tawuran antarwarga, bentrok antar pemuda, atau saling lempar antarmahasiswa, yang semuanya hanya hanya berakar pada persoalan yang tidak seberapa. Tragedi berdarah itu lalu pecah hanya karena masing-masing pihak tidak sanggup menahan diri.
Kekerasan yang akhir-akhir ini banyak terjadi di negeri yang mayoritas Muslim ini, seperti diyakini banyak pakar, salah satunya akibat langsung dari semakin lebarnya jarak sosial antara yang kaya dan yang miskin. Ketidakadilan ekonomi mepukan sumber kian rentannya ketahan psikis yang dalam perspektif pesan di atas dapat berpotensi memicu kekufuran.
Karena itu, dalam logika Alquran, kekerasan bisa saja terjadi sebagai sebagai bentuk peringatan keras Allah atas ketidakadilan ekonomi yang hingga saat ini belum sanggup menurunkan angka kemiskinan secar signifikan. Masih tingginya angka pengangguran menjadi sumber ketidaksanggupan manusia menerima kenyataan. Dan ketidakmampuan menghadapi kenyataan ini pula yang pada gilirannya telah menggeser ketulusan untuk bersedia menerima perbedaan.
Padahal, seperti disyaratkan Nabi SAW, perbedaan adalah rahmat. perbedaan dalam hal apa pun. Perbedaan pendapat pun dapat menjadi lahan beramal dalam beramal bebagi dengan sesama. Tapi, mengapa kenyataan mengungkap pemandangan sebaliknya. Mungkin, kenyataan inilah yang digambarkan Allah dalam Alquran surah Ibrahim (14) ayat 7, "Jika kalian bersyukur, akan Aku tambah nikmat-Ku kepadamu; tapi sebaliknya, jika kalian mengingkari atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan, azab-Ku sangat pedih."
Pernyataan Alquran yang sarat muatan pesan persuasi ini seolah tengah menampar bangsa kita yang akhir-akhir ini sering menuai derita. Pesannya tegas bahwa manusia wajib bersyukur, yang salah satu ekspresi adalah sikap tulus menerima kenyataan sambil tetap berikhtiar memperbaiki kehidupan.
Jadi, unutk menghindari semakin suburnya kekerasan di negeri ini, perlu diperkuat agenda meringankan beban kekufuran sosial melalui usaha mewujudkan pesan Alquran. "Memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (QS. Quraisy: 4).

(sumber: hikmah republika)       

No comments:

Post a Comment